Menu

5 July 2013

ALIH KODE DAN CAMPUR KODE (Sosiolinguistik)



Alih Kode
1.      Pengertian Alih Kode
Ada beberapa pengertian mengenai alih kode yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya;
a.       Apple (1976) mendefinisikan alih kode sebagai, “ gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi".
Situasi disini, contohnya ada dua orang sunda yang berbahasa ibu sunda berbincang dengan menggunakan bahasa sunda kemudian setelah beberapa menit datang orang Tapanuli yang tidak bisa menggunakan bahasa sunda sehingga mereka berubah ketiga orang tersebut memakai bahasa indonesia. Situasi “kesundaan” yang berubah menjadi situasi “keindonesiaan” karena ada salah satu yang tidak mengerti bahasa sunda. Secara sosial perubahan perubahan bahasa itu memang harus dilakukan, sebab sangatlah tidak pantas dan tidak etis secara sosial untuk menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang ketiga.oleh sebab itu, alih kode ini dapat dikatakan mempunyai fungsi sosial.
b.      Hymes (1878: 103)   alih kode itu bukan hanya terjadi antar bahasa, tetapi dapat juga terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa. Yaitu misalnya perubahan antara ragam santai dan ragam resmi bahasa indonesia. Lengkapnya hymes mengemukakan “ code switching has become a common term for alternate us of two or more language, varieties of languange, or even speech styles”.
Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa alih kode adalah peristiwa pergantian bahasa yang digunakan dari bahasa sunda ke bahasa indonesia, atau berubahnya dari ragam santai menjadi ragam resmi, tau juga ragam resmi ke ragam santai.

2        Penyebab Terjadinya Alih kode
a.       Penyebab terjadinya alih kode menurut Fishman (1976 : 15) yaitu :
1.      Siapa yang berbicara;
2.      Dengan bahasa apa;
3.      Kepada siapa;
4.      Kapan;
5.      Dengan tujuan apa.
b.    Penyebab terjadinya alih kode dalam berbagai kepustakaan linguistik secara umum antara lain adalah,
1.      Pembicara atau penutur;
2.      Pendengar atau lawan tutur;
3.      Perubahan situasi karena hadirnya orang ketiga;
4.      Perubahan formal ke informal atau sebaliknya;
5.      Perubahan topik pembicaraan.
c.       Menurut Widjajakusumah terjadinya alih kode dari bahasa Sunda ke  bahasa Indonesia adalah karena :
1.      Kehadiran orang ketiga;
2.      Perpindahan topik dari yang nonteknis ke yang teknis;
3.      Beralihnya suasana berbicara;
4.      Ingin dianggap terpelajar;
5.      Ingin menjauhkan jarak;
6.      Menghindarkan adanya bentuk kasar dan halus dalam bahasa sunda;
7.      Mengutip pembicaraan orang lain;
8.      Terpengaruh lawan bicara yang beralih ke bahasa Indonesia;
9.      Mitra bicaranya lebih mudah;
10.  Berada ditempat umum;
11.  Menunjukkan bahasa pertamanya bukan bahasa sunda;
12.  Beralih media/sara bicara.
Sedangkan penyebab alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Sunda dalah karena :
1.      Perginya orang ketiga;
2.      Topiknya beralih dari hal teknis ke hal nonteknis;
3.      Suasana beralih dari resmi ketidak resmi; dari situasi kesundaan keindonesiaan
4.      Merasa ganjil untuk tidak berbahasa sunda dengan orang sekampung;
5.      Ingin mendekatkan jarak;
6.      Ingin beradab-adab dengan menggunakan bahasa sunda halus, dan berakrab-akrab dengan bahasa sunda kasar;
7.      Mengutip dari peristiwa bicara yang lain;
8.      Terpengaruh oleh lawan bicara yang berbahasa sunda;
9.      Perginya generasi muda, mitra bicara lain yang lebih muda;
10.  Merasa dirumah sendiri, bukan ditempat umum;
11.  Ingin menunjukkan bahasa pertamanya adalah bahasa sunda;
12.  Beralih bicara biasa tanpa ala-alat seperti telepon.

3        Contoh Ilustrasi Alih kode
1.      Alih kode berikut dari bahasa Sunda ke bahasa indonesia ( diangkat dari Widjajakusumah 1981).
Latar belakang                        : kompleks perumahan guru di Bandung.
Para pembicara            : Ibu-ibu rumah tangga. Ibu Susi dan Ibu   Heni orang sunda, dan Ibu Novi orang Minang yang tidak bisa berbahasa sunda.
Topik                           : air ledeng tidak keluar.
Sebab Alih kode         : kehadiran Ibu Novi dalam peristiwa tutur.
Peristiwa tutur             :
Ibu Susi                       : Bu Heni, kumaha cai tadi wengi? Di abdi mah tabuh sapuluh nembe ngocor, kitu ge alit.
Ibu Heni                      : Sami atuh. Kumaha ibu Novi yeuh, “kan biasanya baik. 
         Keterangan : yang memakai garis bawah bahasa indonesia dan yang tidak bahasa sunda.
         Perubahan bahasa diatas karena ada salah satu diantara mereka yang tidak  menguasai bahasa sunda. 
    2.      Alih kode dari situasi formal menjadi tidak formal diangkat dari Soewito (1983) berupa percakapan anatara seorang sekreataris (S) dengan majikan (M).
S   : Apakah bapak sudah jadi membuat lampiran surat ini?
M  :O, ya, sudah. Inilah!
S   : surat ini berisi permintaan borongan untuk memperbaiki kantor sebelah.     Saya sudah kenal  dia. Orangnya baik, banyak relasi, dan tidak banyak mencari untung. Lha saiki yen usahan maju kudu wani ngon ( ...... sekarang jika ingin usahanya maju harur berani bertindak demikian )
S   : Panci ngaten, Pak ( memang begitu, Pak)
M  : Panci ngaten piye? ( memang begitu bagaimana? )
S   : Tegesipunmbok modalipun kados menapa, menawi ( maksud-nya,   betapapun besarnya modal kalau...)
M : Menawa ora akeh hubungane lan olehe mbathi kakehan, usahane ora  bakal dadi. Ngono karepmu? ( kalau tidak banyak hubungan, dan terlalu banyak ngambil untung usahanya tidak akan jadi. Begutu maksumu? )
S : Lha inggih ngaten! ( memang begitu bukan?)
M : O, ya, apa surat untuk Jakarta kemarin sudah jadi di kirim?
S : Sudah, Pak. Bersaman dengan surat Pak Ridwan dengan kilat khusus.

Keterangan : bahasa indonesia sebagai situasi formal dan bahasa jawa sebagai situasi tidak formal.

4        Macam macam Alih kode
a.       Alih kode intern
Alih kode intern adalah alih kode yang berlangsung antara bahasa sendiri, seperti dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa, atau sebaliknya.
b.      Alih kode ekstern
Alih kode ekstern adalah terjadi antara bahasa sendiri ( salah satu bahasa atau ragam yang ada dalam verbal repertoir masyarakat tuturnya) dengan bahasa asing.

Campur Kode
Campur kode (code-mixing) terjadi apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya. Hal ini biasanya berhubungan dengan karakteristk penutur, seperti latar belakang sosil, tingkat pendidikan, rasa keagamaan. Biasanya ciri menonjolnya berupa kesantaian atau situasi informal. Namun bisa terjadi karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa tersebut tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan menggunakan bahasa lain, walaupun hanya mendukung satu fungsi. Campur kode termasuk juga konvergense kebahasaan (linguistic convergence).

1        Pengertian campur kode
Ada beberapa pengertian camput kode yang dapat kita liahat, diantaranya;
a.       Campur kode adalah digunakannya serpihan-serpihan dari bahasa lain dalam menggunakan suatu bahasa, yang mungkin diperlukan sehingga tidak dianggap suatu kesalahan.
b.       Thelander (1976; 103) mencoba menjelaskan perbedaan alih kode dan campur kode  katanya, bila didalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain, maka peristiwa yang terjadi adalah alih kode, tetapi apabila didalam suatu peristiwa tutur, klausa-klausa atau frase-frase yang digunakan terdiri dari kaluasa dan frase campuran (hybrid clauses, hybrid phrases), dan masing-masing klausa atau frase itu tidak lagi mendukung fungsi-fungsi sendiri-sendiri, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode.
c.       Fasold (1984) kalau seseorang menggunakan satu kata atau frase dari satu bahasa, dia telah melakukan campur kode. Tetapi apabila satu klausa jelas-jelas memiliki satu gramatika satu bahasa, dan klausa berikutnya disusun menurut struktur gramatika bahasa lain, maka peristiwa yang terjadi adalah alih kode.

2         Macam-macam Campur Kode
Seperti halnya alih kode, campur kode juga dibagi menjadi dua macam:
a.       Campur kode ke dalam (Innercode mixing), yaitu campur kode yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasinya.
b.      Campur kode ke luar (Outercode mixing), yaitu campur kode yang berasal dari bahasa asing.

3        Wujud Campur Kode
Ada beberapa wujud dalam campur kode ini, diantaranya:
a.       penyisipan kata,
b.      menyisipan frasa,
c.       penyisipan klausa,
d.      penyisipan ungkapan atau idiom, dan
e.        penyisipan bentuk baster (gabungan pembentukan asli dan asing).

4        Contoh percakapan campur kode
Percakapan yang dilakukan oleh para penutur dwibahasawan Indonesia-cina Putunghoa di jakarta, diangkat dari laporan Haryono (1990).
Lokasi  : dibagian iklan kantor surat kabar harian Indonesia
Bahasa : Indonesia dam cina putunghoa
Waktu  : senin, 18 November  1998, pukul 11.00 WIB
Penutur : informan III (inf) dan pemasang iklan (PI)
Topik   : memilih halaman untuk memasang iklan.
Inf III  : ni mau pasang dihalaman berapa? ( anda, mau pasang di halaman berapa?)
PI         : Di baban aja deh ( halaman delapan sajalah)
Inf III  : mei you a ! kalau mau dihalaman lain; baiel di baban penuh lho! Nggak ada lagi ! ( kalau mau di halaman lain. Hari selasa halaman delapan penuh lho. Tidak ada lagi)
PI         : na wa xian gaosu wodejingli ba. Ta yao de di baban a ( kalau demikian saya beritahukan direktur dulu. Dia maunya dihalaman delapan ).
Inf III  : hao, ni guosu ta ba. Jintian degoang goa hen duo. Kalau mau ni buru-buru datang lagi ( baik, kamu beri tahu dia. Iklan hari ini sangat banyak, kalau mau kamu harus segera datang lagi).
3      Persamaan dan Perbedaan Alih Kode dan Campur Kode
Persamaan alih kode dan campur kode adalah kedua peristiwa ini lazim terjadi dalam masyarakat multilingual dalam menggunakan dua bahasa atau lebih. Namun terdapat perbedaan yang cukup nyata, yaitu alih kode terjadi dengan masing-masing bahasa yang digunakan masih memiliki otonomi masing-masing, dilakukan dengan sadar, dan disengaja, karena sebab-sebab tertentu sedangkan campur kode adalah sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan memiliki fungsi dan otonomi, sedangkan kode yang lain yang terlibat dalam penggunaan bahasa tersebut hanyalah berupa serpihan (pieces) saja, tanpa fungsi dan otonomi sebagai sebuah kode. Unsur bahasa lain hanya disisipkan pada kode utama atau kode dasar. Sebagai contoh penutur menggunakan bahasa dalam peristiwa tutur menyisipkan unsur bahasa Jawa, sehingga tercipta bahasa Indonesia kejawa-jawaan.
Thelander mebedakan alih kode dan campur kode dengan apabila dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain disebut sebagai alih kode. Tetapi apabila dalam suatu periswa tutur klausa atau frasa yang digunakan terdiri atas kalusa atau frasa campuran (hybrid cluases/hybrid phrases) dan masing-masing klausa atau frasa itu tidak lagi mendukung fungsinya sendiri disebut sebagai campur kode.

SIMPULAN
Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa Alih kode (code switching) adalah peristiwa peralihan dari satu kode ke kode yang lain. Misalnya penutur menggunakan bahasa Indonesia beralih menggunakan bahasa Jawa. Alih kode merupakan salah satu aspek ketergantungan bahasa (languagedependency) dalam masyarakat multilingual. Dalam masyarakat multilingual sangat sulit seorang penutur mutlak hanya menggunakan satu bahasa. Dalam alih kode masing-masing bahasa masih cenderung mengdukung fungsi masing-masing dan dan masing-masing fungsi sesuai dengan konteksnya. Appel memberikan batasan alih kode sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena perubahan situasi.
Campur kode (code-mixing) terjadi apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya. Hal ini biasanya berhubungan dengan karakteristk penutur, seperti latar belakang sosil, tingkat pendidikan, rasa keagamaan. Biasanya ciri menonjolnya berupa kesantaian atau situasi informal. Namun bisa terjadi karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa tersebut tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan menggunakan bahasa lain, walaupun hanya mendukung satu fungsi. Campur kode termasuk juga konvergense kebahasaan (linguistic convergence).
Persamaan alih kode dan campur kode adalah kedua peristiwa ini lazim terjadi dalam masyarakat multilingual dalam menggunakan dua bahasa atau lebih. Namun terdapat perbedaan yang cukup nyata, yaitu alih kode terjadi dengan masing-masing bahasa yang digunakan masih memiliki otonomi masing-masing, dilakukan dengan sadar, dan disengaja, karena sebab-sebab tertentu sedangkan campur kode adalah sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan memiliki fungsi dan otonomi, sedangkan kode yang lain yang terlibat dalam penggunaan bahasa tersebut hanyalah berupa serpihan (pieces) saja, tanpa fungsi dan otonomi sebagai sebuah kode

9 June 2013

CERPEN DAN UNSUR INTRINSIKNYA (Analisis Unsur Intrinsik Cerpen)


ANALISIS UNSUR INTRINSIK CERPEN
ANAK SAYA PERLU MAKAN DARI KUMPULAN CERPEN  MANDI API
KARYA GDE ARYANTHA SOETHAMA

Oleh
Dedi Irawan

DIKBASASINDA - STKIP SEBELAS APRIL SUMEDANG

Cerpen :
Anak Saya Perlu Makan, Karya Gde Aryantha Soethama
Joko merasa sangat bersalah. Awalnya ia berniat untuk membantu Rukminimesti menyediakan uang Rp 1 juta.
“Di tempat ku memang tak mengenal main sogok-sogokan,  tapi entah mengapa, rata-rata calon karyawan akhirnya nyogok,” ujar Joko.
“ternyata ijazah sarjana dan kecerdasan tak cukup ya?” gumam Rukmini.
Wanita ceking itu akhirnya menyerahkan uang yang diminta Joko, karena sejak SMA mereka bersahabat dan saling bantu. Ketika kuliah mereka satu kelompok diskusi dan sering membuat makalah bersama-sama. Namun nasib Joko lebih baik. Ia mendapat pekerjaan lebih dulu, sementara Rukmini harus menanggung aib sangat besar: ia terjebak rayuan lelaki sudah beristri. Hubungan itu mungkin bisa selesai kalau saja Rukmini tahu lebih awal. Ia baru tahu ketika sudah hamil tiga bulan. Dan bagaimana pun mereka harus kawin.
Si leleki kembali kepada istri pertama. Dan Rukmini mencoba hidup sendiri. Ia mencoba meneruskan kuliah, kos, merawat anak, dan bekerja apa saja yang bisa memberinya uang. Ia menjadi Sales promotionobat-obatan dan furniture. Pekerjaannya berat, gajinya kecil. Ia pernah menjadi pramuniaga. Kepada ayah dan ibunya ia mengatakan akan bercerai, tapi ia berharap bisa dibantu uang bulanan untuk hidup dan membesarkan anak. “Sampai saya punya pekerjaan tetap,” pintanya.
Dengan ijazah sarjana ekonomi ia melamar disebuah bank. Dan Joko bersedia membantunya. Tabungan Rp 1 juta ia relakan buat uang sogokan. Tapi ternyata itu belum cukup.
“Bos ternyata mengincar kamu, Ruk,” kata Joko gamang.
“Tapi aku tak kenal dia. Lagi pula aku sudah punya anak, tidak cantik.”
“Waktu wawancara ia perhatikan kkamu dari balik kaca. Dan bos benar-benar naksir.”
“Apa di mana-mana bos harus begitu?”
“Mana aku tahu.”
“Maksudku, apa bosmu memang tipe lelaki yang suka memanfaatkan kesempatan?”
“Setahuku tidak.”
“Lalu apa yang dia harapkan dariku?”
Joko terhentak. “Kupikir kamu tahu apa yang aku maksud.”
“Aku bisa merabanya, tapi aku ingin detailnya.”
“Bos ingin mengajakmu kencan.”
“Aku tahu. Ia ingin tidur denganku. Tapi apa yang akan kuperoleh? Apa semua ini akan berlangsung terus selama akau jadi karyawan di sana? Aku tak mau jadi gundik.”
“Aku memang sempat dipanggil masalah ini. Katanya ia hanya ingin kencan sekali aja denganmu.”
“Apa jaminannya hanya sekali?”
“Ah, aku tak tahu. Kurasa kau bisa membicarakannya nanti dengan bos.”
“Baik aku terima tawarannya.”
Joko terhentak. Ia tak percaya kalimat Rukmini. Setahunya Rukmini wanita bersih. Sayang ia tergelincir kedalam rengkuhan nasib buruk.
“Katakan pada bosmu aku terima ajakannya. Suruh dia jemput aku di Pantai Sanur, dekat Beach Market. Ku tunggu dia besok pukul tujuh malam. Aku ingin masalah ini cepat selesai.”
“Kau serius, Ruk?”
“Memangnya kenapa?”
“Kupikir kau tak usah meladeninya. Ini akan menjadi sejarah hidupmuyang buruk.”
“Hidupku sudah sangat buruk, Jok. Biarkan aku terus melakoninya.”
“Tapi yang ini jangan! Kau akan semakin terperosok.”
“Anakku perlu makan, Jok. Ini awal dari kepastian. Pokonya sampaikan pada bosmu tentang kencan besok malam. Jangan lupa.”
Rukmini berdiri di pantai dengan perasaan gamang. Dikenakannya rok terusan merah pekat. Sekali-kali ia menatap papan restoran di komplek Beach Market. Tiba-tiba ia teringat anaknya yang ia titipkan di tetangga. Anak lelaki tiga tahun itu tentu tak akan pernah tahu apa yang akan dikerjakan bundanya.
Sebuah mobil sedan menyorotkan lampunya ke pantai. Dada Rukmini berdebar kencang. Seorang lelaki dengan t-shirt putih kembang merah dan ungu, bercelana jins, turun. Rukmini tak yakin kalau itu seorang direktur bank yang punya sepuluh cabang. Ia menyongsongnya penuh hormat.
“Selamat malam, Pak. Saya Rukmini.”
“Sudah lama menunggu?”
Suara itu berat sekali. Ia teringat pacarnya yang pertama ketika di semester tiga. Dimana lelaki itu sekarang?
Lelaki itu membukakannya pintu, mempersilahkannya masuk.
“Kemana kita sekarang?”
“Terserah Bapak.”
“Bagaimana kalau di sini saja?”
“Di sini?” Rukmini memandang lelaki itu. Matanya bagus. Tajam, bercahaya. Rambutnya berombak sedikit dibagian belakang. Lehernya kukuh. Ia lelaki beruntung. Masih muda. Umurnya pasti belum 40, tapi sudah kaya. Kelihatannya ia lelaki sederhana. Mobilnya saja cukup Toyota DX tahun 1982. Atau ia berpura-pura sederhana kalau menghadapi cewek, biar pasangan kencannya tak terlampau menuntut duit?
“Memangnya kenapa?”
“Bapak tidak takut?”
“Takut sama siapa? Takut sama hansip? Apa hak mereka mencampuri urusan pribadi mereka?”
Laki-laki itu tertawa. Lalu ia menstarter mobilnya, melaju kebarat.
“Kamu tinggal di mana?”
“Di Jalan Teuku Umar.”
“Kita ke sana saja.”
“Jangan Pak, Jangan!”
“Kenapa?”

GELOMBANG BAHASA (Sebuah Teori Perbandingan Bahasa Nusantara)


Oleh : Dedi Irawan  
Bahasa merupakan sebuah sistem universal yang dinamis. Ada pola-pola atau unsur-unsur linguistik dalam setiap bahasa. Pola-pola tersebut merupakan sistem bahasa. Aturan (sistem) berbahasa ini kemudian digunakan oleh masyarakat bahasa. Atas penggunaan bahasa dimaksud, dapat dikemukakan bahwa pada suatu komunitas bahasa tercipta konvensi bahasa yakni pada sistem bahasa. Konvensi itu penting karena bahasa digunakan tidak terbatas pada satu individu saja namun pada lingkup yang lebih besar yakni masyarakat bahasa regional bahkan internasional. Terkait dengan pengguna bahasa --manusia yang selalu dinamis-- yang dalam kegiatannya melakukan kontak bahasa antara satu sama lain, maka terjadi pula bahasa yang dinamis. Pergerakan masyarakat bahasa ini bisa melewati batas-batas regional dalam upaya penutur suatu bahasa untuk melangsungkan kehidupannya.
Bahasa merupakan wadah yang memiliki konsep bahasa untuk melakukan kontak antar(a) suatu komunitas bahasa dengan komunitas bahasa lainnya pada satu wilayah bertetangga bahkan dalam lintas wilayah. Ada konsep bahasa yang sama pada satu komunitas karena mereka menggunakan bahasa yang sama. Namun ketika masyarakat bahasa tersebut melakukan kontak dengan komunitas bahasa di luar komunitas aslinya maka tidak menutup kemungkinan akan tercipta suatu variasi bahasa.
Berbicara tentang variasi bahasa, seseorang perlu memahami istilah terkait yakni idiolek, dialek, dan ragam. Kridalaksana (2008: 90) menyebutkan bahwa bahasa yang digunakan oleh seorang pribadi manusia dengan keseluruhan ciri-ciri bahasanya disebut idiolek. Jadi idiolek itu pusatnya pada tiap insan pengguna bahasa. Letak perbedaan lainnya adalah pada kelompok masyarakat yang menggunakan bahasa pada suatu tempat atau waktu maka variasi bahasa yang terjadi disebut dialek. Misalnya bahasa Batak dialek Toba, bahasa Batak dialek Humbang Hasundutan, bahasa Batak dialek Simalungun. Lain halnya dengan ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan atau untuk keperluan tertentu sehingga kita mengenal istilah ragam baku dan tidak baku; juga ragam lisan dan tulisan.
Holmes (2001) dalam bukunya “An Introduction to Sociolinguistics” membahas perubahan bahasa atas empat fokus perhatian, yakni 1) variasi dan perubahan; 2) bagaimana perubahan itu menyebar; 3) bagaimana kemudian kita mempelajari perubahan bahasa yang terjadi; dan 4) alasan-alasan sehingga perubahan bahasa terjadi. Dalam tulisan ini, saya akan melihat empat hal tersebut sebagai satu kesatuan yang saling terkait. Oleh karena itu, saya akan menguraikannya dengan apa yang disebut Teori Gelombang dari Schmidt (Schmidt’s Wave Theory) dan pada akhirnya mencoba mengimplementasikan dan menghubungkannya dengan pengajaran bahasa.
Perubahan bahasa terjadi tidak dalam jangka waktu yang singkat (Holmes, 2001: 194; Yule, 2006: 190; Aitchison, 2003: 160; Aitchison, 1991: 4; Chambers, 2006: 69, 109).  Aitchison (2003: 160) menambahkan bahwa perubahan itu sering kali tidak disadari (unconscious) oleh penutur satu bahasa karena bunyi dan bentuk sintaksis yang sifatnya statis. Perubahan bahasa itu menurut Greenberg (1978a) dalam Good (2008: 13) memiliki mekanisme mendasar yang umumnya terjadi pada semua bahasa; saya pahami sebagai mekanisme yang dapat ditelusuri lewat pendekatan horisontal atau longitudinal. Yule (2006: 192) menyebutkan bahwa variasi bahasa dapat ditelusuri secara diakronis (waktu yang berbeda) dan sinkronis (melihat perbedaan dalam satu bahasa pada tempat serta kelompok yang berbeda pada waktu yang sama).
Terkait upaya untuk menguraikan perubahan bahasa dengan Teori Gelombang, maka saya akan lebih menaruh perhatian pada penelusuran perubahan bahasa secara sinkronis atau horisontal. Ibarat gelombang yang bergerak secara horisontal, maka demikian pula yang terjadi pada perubahan bahasa.
Di ibaratkan, terdapat dua masyarakat bahasa dari Komunitas A dan Komunitas B.  A, B, C, dan D menunjukkan perbedaan kelompok usia, kelompok sosial atau kelompok regional. Bagian yang diarsir pada gambar di atas menggambarkan daerah tempat terjadinya kontak bahasa antara dua komunitas tersebut. Seiring dengan waktu yang relatif cukup lama, maka daerah ini merupakan daerah bahasa baru. Demikian seterusnya hingga dua masyarakat bahasa baik dari lingkaran C, B, bahkan A sekalipun dapat menciptakan daerah-daerah bahasa baru (Saya ilustrasikan dengan garis gelombang putus-putus yang dapat diartikan sebagai berpotensi untuk daerah baru kontak bahasa).
Memang perlu kita sadari bahwa masyarakat bahasa memiliki komunitas bahasa dengan masing-masing konvensi bahasa (disini saya tidak akan mempermasalahkan adanya komunitas minor dan mayor). Yang pasti, masyarakat dinamis dengan sifat sosialnya untuk melakukan dan membuat kontak atau hubungan dengan kelompok lain pada wilayah di sekitarnya merupakan aktor yang sangat berpotensi dalam terjadinya perubahan bahasa. 
Kontak bahasa terjadi di antara komunitas bahasa yang berasal dari masyarakat bahasa yang berbeda-beda. Ketika kontak bahasa terjadi, seringkali pada awalnya penutur bahasa yang berbeda itu mengalami kegalauan bahasa oleh karena sistem, kosa kata, bunyi bahasa yang sedikit berbeda atau jelas-jelas berbeda. Namun disadari bahkan pergerakan tubuh atau mimik juga merupakan wujud lain bahasa (dalam tulisan ini saya tidak akan membahasnya). Kontak yang terjadi memberi ruang bagi masing-masing komunitas bahasa untuk saling menunjukkan identitasnya. Holmes (2001: 194-195) mengemukakan bahwa bahasa sebagai identitas independen dari penutur. Selain itu ada tiga cara yang saling terkait dalam hal perubahan bahasa, yakni: perihal waktu (lihat juga Thomason (1993) seperti dikutip Chambers, (2006: 68), physical space –regional (wilayah), dan socially (secara sosial).
Ada semacam gelombang yang berasal dari individu sebagai anggota masyarakat bahasa dalam menjalani kehidupan ini sehingga mau tidak mau melakukan kontak dengan komunitas lain. Begitu juga dari masyarakat bahasa yang lain ada upaya yang kurang lebih sama. Masing-masing dari komunitas yang berbeda ini kemudian melakukan kontak. Saat kontak itu terjadi, maka ada pertukaran bahasa yang terjadi. Agar dapat saling memahami antar komunitas dimaksud, maka perlu upaya untuk mengerti bahasa dari komunitas yang berbeda. Upaya ini sebagai gelombang yang bersumber dari internal komunitas bahasa. Upaya internal ini terjadi bersamaan dengan pergerakan dari luar (eksternal) (lihat juga Yule, 2006: 186-188). Jika kontak ini terjadi, berarti masyarakat bahasa tersebut merupakan masyarakat yang terbuka.